Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda.
Ada Ramadan yang kita jalani dengan hati ringan.
Ada Ramadan yang datang saat kita sedang lelah.
Ada Ramadan yang menemukan kita dalam versi diri yang lebih dewasa atau justru lebih rapuh.
Tahun ini, aku tidak ingin membuat target yang terlalu tinggi.
Aku tidak ingin sekadar mengejar checklist ibadah.
Aku ingin Ramadan ini menjadi ruang pulang.
Pulang pada diri sendiri.
Pulang pada Allah.
Pulang pada niat yang sempat hilang arah.
Dan inilah target Ramadan tahun ini.
Target Pertama: Memperbaiki Hubungan, Bukan Sekadar Rutinitas
Ramadan bukan tentang menambah aktivitas, tapi memperdalam makna.
Selama ini, sering kali kita merasa Ramadan identik dengan jadwal yang semakin padat. Target bertambah. Agenda ibadah bertumpuk. Alarm lebih banyak. Checklist makin panjang.
Tanpa sadar, Ramadan berubah menjadi proyek spiritual.
Padahal, yang kita butuhkan bukan tambahan beban.
Yang kita butuhkan adalah kedalaman.
Aku ingin tahun ini berbeda.
Aku ingin shalat dengan hadir, bukan sekadar selesai.
Bukan sekadar mengejar cepat agar bisa lanjut ke aktivitas berikutnya.
Bukan sekadar menggugurkan kewajiban lima waktu.
Aku ingin berdiri dalam shalat dengan kesadaran penuh bahwa aku sedang berbicara kepada Allah.
Bahwa setiap takbir adalah pengakuan kecil bahwa hidupku tidak sepenuhnya dalam kendali.
Bahwa setiap sujud adalah bentuk kerendahan hati yang paling jujur.
Bukan gerakannya yang ingin kuperbaiki terlebih dahulu, tetapi kehadirannya.
Karena sering kali tubuh kita shalat,
tapi pikiran kita berkelana.
Aku juga ingin membaca Al-Qur’an dengan memahami, bukan hanya mengejar khatam.
Khatam itu indah. Target itu baik. Tapi aku tidak ingin menjadikan mushaf sebagai garis lomba. Aku ingin menjadikannya cermin.
Aku ingin berhenti di satu ayat yang menegur.
Aku ingin diam lebih lama pada satu ayat yang menenangkan.
Aku ingin bertanya pada diri sendiri:
“Ayat ini sedang berbicara tentang siapa? Tentang orang lain, atau tentang aku?”
Mungkin aku tidak membaca sebanyak sebelumnya.
Tapi aku ingin membaca lebih dalam.
Karena yang mengubah hidup bukan seberapa banyak halaman yang kita lalui,
melainkan seberapa dalam pesan itu masuk ke hati.
Aku ingin berdoa dengan jujur, bukan hanya mengulang hafalan.
Sering kali doa kita terasa rapi, terstruktur, indah. Tapi belum tentu jujur.
Aku ingin belajar berkata apa adanya.
Mengakui lelah.
Mengakui takut.
Mengakui kecewa.
Mengakui bahwa aku tidak selalu kuat.
Aku ingin doa yang tidak hanya terdengar baik, tetapi benar-benar lahir dari ruang terdalam hati. Karena Allah tidak membutuhkan kalimat yang sempurna. Dia sudah tahu bahkan sebelum kita menyusunnya.
Aku ingin ibadahku terasa seperti percakapan, bukan kewajiban administratif.
Bukan sekadar daftar yang harus dicentang.
Bukan angka yang harus dipenuhi.
Bukan performa yang harus terlihat baik.
Ibadah adalah hubungan.
Dan hubungan tumbuh dari kedekatan, bukan tekanan.
Aku ingin ada rasa rindu saat menunggu waktu shalat.
Ada rasa tenang saat membuka mushaf.
Ada rasa lega setelah berdoa.
Bukan karena semuanya sempurna,
tapi karena ada kesadaran bahwa aku sedang kembali.
Karena yang sering hilang bukanlah waktu,
tapi kesadaran.
Kita punya 24 jam yang sama.
Kita punya kesempatan yang sama.
Tapi tanpa kesadaran, waktu hanya lewat.
Ramadan tahun ini, aku tidak ingin sekadar menjalani.
Aku ingin menyadari.
Menyadari bahwa setiap detik adalah undangan.
Setiap azan adalah panggilan.
Setiap ayat adalah pesan.
Setiap doa adalah kesempatan untuk jujur.
Dan mungkin, jika kesadaran itu hadir,
Ramadan tidak perlu terlalu ramai.
Ia cukup dalam.
Target Kedua: Mengendalikan Diri, Bukan Hanya Menahan Lapar
Menahan lapar itu mudah dibanding menahan emosi.
Lapar punya waktu.
Ada sahur. Ada buka.
Ia datang dan pergi dengan ritme yang jelas.
Tapi emosi tidak mengenal jadwal.
Ia bisa muncul di pagi hari ketika energi menurun.
Di siang hari ketika pekerjaan menumpuk.
Di sore hari ketika tubuh lelah dan kepala terasa penuh.
Dan sering kali, yang menguji bukan rasa haus, tetapi cara kita merespons manusia.
Tahun ini aku ingin belajar lebih serius tentang itu.
Tidak mudah tersinggung.
Karena sering kali kita bukan benar-benar disakiti, kita hanya sedang sensitif.
Kurang tidur.
Kurang sabar.
Kurang ruang untuk bernapas.
Aku ingin belajar memilah:
Mana yang benar-benar perlu ditanggapi dan mana yang cukup dilewati.
Tidak semua komentar harus dijawab.
Tidak semua perbedaan harus diluruskan.
Tidak semua kesalahan orang lain harus diperbesar.
Tidak mudah menghakimi.
Ramadan seharusnya membuat kita sadar bahwa kita sendiri penuh kekurangan.
Bahwa kita pun sering lalai.
Bahwa kita pun sering jatuh.
Lalu dengan posisi seperti itu, bagaimana mungkin kita begitu ringan menilai orang lain?
Aku ingin belajar melihat dengan empati.
Bahwa mungkin orang itu sedang lelah.
Mungkin ia sedang punya masalah yang tak terlihat.
Mungkin ia tidak bermaksud seburuk yang kita kira.
Karena menghakimi itu cepat.
Memahami itu butuh hati.
Tidak mudah membalas dengan nada yang sama.
Ketika disindir, kita ingin menyindir balik.
Ketika dibentak, kita ingin meninggikan suara.
Ketika disalahpahami, kita ingin membela diri habis-habisan.
Tapi puasa mengajarkan satu hal penting:
Kita tidak harus bereaksi pada setiap hal.
Ada kekuatan dalam diam.
Ada kedewasaan dalam memilih tidak memperpanjang.
Ada kemuliaan dalam menahan diri.
Bukan berarti membiarkan diri direndahkan.
Tapi memilih waktu dan cara yang lebih bijak.
Puasa seharusnya membuat kita lebih lembut.
Lembut dalam bicara.
Lembut dalam memandang.
Lembut dalam memperlakukan orang di rumah, terutama mereka yang paling dekat.
Karena sering kali, justru orang terdekatlah yang menerima sisa emosi kita.
Ramadan bukan hanya membuat kita sabar di depan makanan,
tapi juga sabar menghadapi manusia.
Dan manusia itu kompleks.
Ada yang sensitif.
Ada yang keras.
Ada yang sulit dimengerti.
Ada yang berbeda cara berpikirnya.
Ramadan mengajak kita belajar hidup berdampingan tanpa harus selalu menang.
Ramadan adalah latihan karakter.
Bukan sekadar latihan fisik.
Bukan sekadar ritual tahunan.
Tapi proses pembentukan diri.
Jika setelah 30 hari kita:
Masih mudah marah.
Masih mudah tersinggung.
Masih mudah menyakiti dengan lisan.
Maka mungkin ada yang belum benar-benar kita latih.
Aku ingin lulus Ramadan tahun ini bukan dengan angka, tapi dengan perubahan sikap.
Aku ingin ketika Ramadan selesai: Aku lebih tenang saat menghadapi kritik.
Aku lebih pelan saat berbicara.
Aku lebih lapang saat menerima perbedaan.
Karena pada akhirnya, kedewasaan bukan terlihat dari seberapa sering kita benar,
tetapi dari seberapa bijak kita merespons. Dan mungkin, kelulusan terbaik dari Ramadan bukanlah seberapa banyak kita menahan lapar, melainkan seberapa banyak kita berhasil menahan diri.
Aku ingin hati yang lebih lapang.
Bukan karena hidup menjadi lebih mudah,
tetapi karena aku belajar menjadi lebih matang.
Jika lapar menguatkan tubuh, maka menahan emosi seharusnya menguatkan jiwa, dan Ramadan adalah ruang latihannya.
Target Ketiga: Mengurangi Kebisingan Dunia
Terlalu banyak suara di kepala.
Ekspektasi.
Perbandingan.
Tekanan sosial.
Standar orang lain.
Kadang bukan dunia yang berisik, tetapi pikiranku sendiri.
Ada suara yang bilang aku harus lebih produktif.
Ada suara yang bilang orang lain sudah lebih jauh.
Ada suara yang bertanya kenapa hidupku belum seperti itu-itu saja.
Dan anehnya, semua suara itu terdengar seperti kebenaran.
Padahal belum tentu.
Ramadan ini aku ingin lebih sunyi.
Bukan sunyi dari tanggung jawab.
Bukan sunyi dari kehidupan.
Tapi sunyi dari kebisingan yang sebenarnya tidak perlu.
Aku lelah membandingkan.
Lelah melihat hidup orang lain yang terlihat rapi dan sempurna di layar kecil itu.
Lelah merasa harus selalu “cukup” menurut standar yang bahkan bukan milikku.
Scrolling yang awalnya hanya lima menit bisa berubah menjadi satu jam.
Dan setelahnya?
Bukan inspirasi yang datang.
Tapi rasa kurang.
Kurang sukses.
Kurang saleh.
Kurang disiplin.
Kurang bahagia.
Ramadan ini aku ingin mengurangi scrolling yang tidak perlu.
Aku ingin berhenti mengonsumsi hal-hal yang membuat hati resah.
Berita yang memicu marah.
Konten yang memicu iri.
Diskusi yang memicu emosi tapi tak membawa solusi.
Aku ingin berhenti merasa harus tahu semua hal.
Harus ikut semua tren.
Harus punya opini tentang segala sesuatu.
Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.
Tidak semua isu perlu dikomentari.
Tidak semua pendapat perlu ditanggapi.
Kadang, diam adalah bentuk penjagaan diri.
Aku ingin memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas.
Karena selama ini mungkin aku tidak lelah karena pekerjaan.
Aku lelah karena pikiranku tidak pernah istirahat.
Setiap hari ada standar baru.
Standar menjadi ibu yang sempurna.
Standar menjadi perempuan yang sukses.
Standar menjadi pribadi yang religius tanpa cela.
Aku ingin bertanya pada diriku sendiri:
Sebenarnya aku ingin menjadi apa?
Bukan menurut orang.
Bukan menurut timeline media sosial.
Bukan menurut ekspektasi lingkungan.
Tapi menurut hatiku sendiri.
Ramadan ini aku ingin menciptakan ruang hening.
Ruang untuk membaca tanpa tergesa.
Ruang untuk berdoa tanpa distraksi.
Ruang untuk duduk diam dan benar-benar hadir.
Mungkin tidak perlu terlalu banyak suara motivasi.
Tidak perlu terlalu banyak pembuktian.
Tidak perlu terlalu banyak validasi.
Karena sering kali, yang membuat hati lelah bukan pekerjaan, tapi kebisingan yang kita izinkan masuk.
Kita membuka pintu untuk opini orang.
Kita membuka jendela untuk perbandingan.
Kita membiarkan komentar tinggal lebih lama di kepala daripada seharusnya.
Dan tanpa sadar, jiwa kita penuh.
Ramadan ini aku ingin menutup sebagian pintu itu.
Bukan karena aku anti kritik.
Bukan karena aku ingin lari dari realitas.
Tapi karena aku ingin menjaga kewarasan.
Aku ingin Ramadan menjadi tempat istirahat, bukan perlombaan.
Tempat pulang, bukan panggung.
Aku ingin hati yang lebih tenang, meski hidup tetap dinamis.
Aku ingin pikiran yang lebih jernih, meski dunia tetap ramai.
Karena mungkin, yang paling kita butuhkan bukan tambahan motivasi.
Tapi keheningan.
Dan di dalam keheningan itu,
aku ingin menemukan kembali diriku yang tidak sibuk membuktikan,
tidak sibuk membandingkan,
tidak sibuk mengejar pengakuan.
Hanya menjadi.
Hanya berproses.
Hanya mendekat.
Ramadan ini, aku tidak ingin lebih terlihat.
Aku ingin lebih sadar.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Target Keempat: Menjadi Ibu dan Perempuan yang Lebih Sadar
Sebagai ibu, Ramadan bukan hanya tentang diri sendiri.
Ia bukan hanya tentang target pribadiku.
Bukan hanya tentang berapa juz yang kubaca.
Bukan hanya tentang seberapa khusyuk shalatku.
Ramadan di rumah adalah tentang suasana.
Dan sering kali, suasana itu dimulai dari ibunya.
Aku sadar, anak-anak tidak mengingat ceramah panjang.
Mereka mengingat rasa.
Mereka mungkin lupa ayat apa yang kubacakan.
Tapi mereka akan ingat:
Apakah ibu sering tersenyum atau sering marah.
Apakah sahur terasa hangat atau penuh teguran.
Apakah Ramadan identik dengan pelukan atau tekanan.
Aku ingin anak-anakku melihat Ramadan sebagai sesuatu yang hangat, bukan tegang.
Aku tidak ingin mereka mengingat Ramadan sebagai bulan ketika ibu lebih mudah lelah lalu lebih mudah kesal.
Aku tidak ingin mereka merasa Ramadan itu berat karena suasana rumah menjadi sensitif.
Aku ingin mereka merasa:
Ramadan itu spesial.
Ramadan itu tenang.
Ramadan itu berbeda dengan cara yang menyenangkan.
Rumah terasa teduh, bukan penuh tekanan.
Tidak harus selalu rapi sempurna.
Tidak harus selalu menu buka yang lengkap.
Tidak harus selalu disiplin seperti jadwal militer.
Aku belajar menerima bahwa ada hari ketika aku lelah.
Ada hari ketika sahur seadanya.
Ada hari ketika anak-anak lebih ramai dari biasanya.
Dan itu tidak apa-apa.
Yang penting bukan kesempurnaan teknisnya, tetapi energi yang kita bawa ke dalam rumah.
Aku ingin ibadah terasa menyenangkan, bukan menakutkan.
Aku tidak ingin anak-anak merasa shalat karena takut dimarahi.
Aku ingin mereka merasa shalat karena itu ruang yang aman.
Aku ingin doa bukan jadi sesuatu yang kaku, tetapi percakapan kecil sebelum tidur.
“Ya Allah, terima kasih hari ini…”
Sesederhana itu.
Aku ingin menghadirkan Ramadan yang penuh cerita.
Cerita tentang bangun sahur dengan mata setengah terbuka.
Tentang gelas yang hampir tumpah karena masih mengantuk.
Tentang adzan subuh yang terdengar lebih hening dari biasanya.
Tentang sore hari ketika energi menurun,
lalu kami memilih duduk bersama, membaca buku, atau sekadar bercerita.
Tentang tawa kecil saat menunggu waktu berbuka.
Tentang berebut teh manis hangat pertama.
Tentang ucapan “Alhamdulillah” yang terdengar serempak.
Ramadan adalah memori.
Dan memori masa kecil sering kali melekat lebih kuat daripada nasihat.
Aku ingin ketika mereka dewasa nanti, dan mendengar kata “Ramadan,”
yang muncul di hati mereka adalah rasa hangat.
Bukan rasa tertekan.
Bukan rasa takut salah.
Bukan rasa bahwa agama itu keras dan melelahkan.
Tapi rasa rumah.
Rasa kebersamaan.
Rasa damai.
Aku ingin mereka tumbuh dengan kenangan bahwa Ramadan adalah bulan ketika ibu lebih banyak memeluk.
Lebih banyak mendengar.
Lebih banyak mengajak bicara tentang Tuhan dengan lembut.
Mungkin aku tidak akan menjadi ibu yang selalu sabar.
Mungkin ada hari ketika emosiku naik turun.
Tapi aku ingin terus belajar.
Belajar bahwa mendidik bukan hanya tentang aturan, tetapi tentang teladan.
Bahwa anak-anak lebih mudah meniru ketenangan daripada mendengar perintah.
Ramadan ini, aku ingin menjadi versi ibu yang lebih sadar.
Sadar bahwa waktunya tidak akan terulang.
Sadar bahwa masa kecil mereka singkat.
Sadar bahwa yang mereka ingat bukan betapa sempurnanya ibadahku, tetapi betapa hadirnya aku untuk mereka.
Dan mungkin, di situlah makna Ramadan yang sebenarnya bagiku sebagai seorang ibu:
Bukan hanya memperbaiki diri, tetapi membangun kenangan yang kelak menjadi fondasi iman mereka.
Karena suatu hari nanti, ketika mereka menjalani Ramadan tanpa aku di sampingnya, aku berharap yang tertinggal bukan sekadar aturan.
Tapi rasa.
Dan rasa itu adalah rumah.
Target Kelima: Berdamai dengan Diri Sendiri
Ini mungkin yang paling penting.
Bukan soal target ibadah.
Bukan soal jadwal yang rapi.
Bukan soal pencapaian spiritual yang terlihat.
Tapi tentang perang kecil di dalam diri sendiri.
Aku ingin berhenti merasa kurang.
Kurang baik.
Kurang saleh.
Kurang sabar.
Kurang berhasil.
Kurang dibandingkan versi orang lain yang terlihat lebih siap, lebih matang, lebih “jadi”.
Perasaan kurang itu melelahkan.
Ia membuat apa pun terasa tidak cukup.
Sudah berusaha, masih merasa gagal.
Sudah bergerak, masih merasa tertinggal.
Aku ingin berhenti merasa tertinggal.
Tertinggal dalam karier.
Tertinggal dalam pencapaian.
Tertinggal dalam spiritualitas.
Tertinggal dalam kehidupan yang seolah semua orang sudah paham arah, sementara aku masih mencari.
Padahal setiap orang punya garis waktunya sendiri.
Ramadan ini aku ingin berhenti mengukur diri dengan penggaris orang lain.
Aku ingin berdiri di titikku sekarang dan berkata:
“Ya, ini aku. Dengan segala kurangnya.”
Berhenti merasa tidak cukup baik.
Tidak cukup sebagai ibu.
Tidak cukup sebagai istri.
Tidak cukup sebagai perempuan.
Tidak cukup sebagai hamba.
Padahal mungkin yang membuat kita merasa tidak cukup bukanlah kenyataan,
tapi standar yang terlalu keras terhadap diri sendiri.
Ramadan ini aku ingin belajar menerima.
Menerima kesalahan masa lalu.
Kesalahan yang masih sering teringat saat malam sunyi.
Keputusan yang seandainya bisa diulang, ingin diperbaiki.
Ucapan yang pernah melukai.
Sikap yang pernah salah arah.
Aku tidak bisa kembali ke masa itu.
Tapi aku bisa memilih untuk tidak terus menghukum diri.
Jika Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya, mengapa aku masih mengunci pintu maaf untuk diriku sendiri?
Aku ingin menerima keterbatasan diri.
Bahwa aku tidak selalu kuat.
Bahwa aku bisa lelah.
Bahwa aku tidak selalu tahu jawaban yang benar.
Bahwa aku sedang belajar.
Dan belajar itu tidak instan.
Aku ingin menerima proses yang belum selesai.
Ada doa yang belum terjawab.
Ada rencana yang belum terwujud.
Ada mimpi yang masih tertunda.
Kadang kita ingin semuanya cepat berubah saat Ramadan.
Ingin menjadi pribadi baru dalam 30 hari.
Ingin hidup terasa langsung lebih ringan.
Tapi mungkin pertumbuhan tidak selalu dramatis.
Mungkin ia pelan.
Hening.
Hampir tidak terlihat.
Seperti akar yang tumbuh di bawah tanah sebelum akhirnya pohon berdiri tegak.
Karena Allah tidak menuntut kesempurnaan.
Dia melihat usaha.
Dia melihat kita bangun meski sempat tertidur lagi.
Dia melihat kita berusaha khusyuk meski pikiran sempat melayang.
Dia melihat kita menahan emosi meski tidak selalu berhasil.
Usaha kecil yang konsisten mungkin lebih dicintai daripada lonjakan besar yang hanya sesaat.
Dan mungkin, yang paling indah dari Ramadan bukanlah perubahan drastis.
Bukan transformasi yang spektakuler.
Bukan cerita “dulu aku begini, sekarang langsung begitu.”
Tapi keberanian untuk memulai lagi.
Memulai lagi setelah gagal.
Memulai lagi setelah jauh.
Memulai lagi setelah merasa tidak layak.
Ramadan adalah undangan untuk kembali.
Kembali tanpa rasa malu.
Kembali tanpa perlu sempurna dulu.
Kembali dengan langkah yang mungkin masih ragu, tapi tulus.
Aku ingin Ramadan ini menjadi momen ketika aku berdamai.
Dengan masa lalu.
Dengan diriku hari ini.
Dengan proses yang masih berjalan.
Bukan menjadi sempurna.
Tapi menjadi lebih lembut pada diri sendiri.
Karena mungkin, spiritualitas yang paling matang bukanlah yang paling keras pada dirinya, tetapi yang paling jujur dan paling mau bangkit lagi.
Dan tahun ini, jika aku hanya berhasil satu hal, aku ingin itu: Berani memulai lagi.
Target Keenam: Konsisten Setelah Ramadan
Banyak dari kita hebat selama 30 hari.
Bangun lebih pagi.
Lebih rajin ke masjid.
Lebih sering membuka Al-Qur’an.
Lebih ringan bersedekah.
Lebih hati-hati menjaga lisan.
Seolah-olah kita menemukan versi terbaik diri kita.
Tapi sering kali, hari ke-31 terasa seperti garis yang terputus.
Alarm tahajud kembali dimatikan.
Mushaf kembali tersimpan lebih lama di rak.
Semangat perlahan digantikan rutinitas lama.
Dan kita berkata, “Ya sudah, Ramadan sudah selesai.”
Padahal yang selesai seharusnya hanya bulannya.
Bukan pertumbuhannya.
Tahun ini aku tidak ingin Ramadan menjadi euforia spiritual sesaat.
Tidak ingin ia hanya menjadi puncak emosi religius yang indah tapi sementara.
Tidak ingin hanya menjadi momen penuh semangat yang memudar setelah takbir berhenti berkumandang.
Aku ingin ia menjadi fondasi.
Fondasi tidak selalu terlihat.
Tidak selalu dipuji.
Tidak selalu dramatis.
Tapi ia menopang segalanya.
Jika selama Ramadan aku mampu bangun tahajud 5 kali dalam seminggu, aku tidak menuntut diriku harus mempertahankan angka itu selamanya.
Aku hanya berharap setelah Ramadan,
aku masih bisa menjaga dua kali.
Dua kali yang konsisten jauh lebih berarti daripada lima kali yang hanya musiman.
Jika selama Ramadan aku mampu membaca 1 juz sehari, mungkin setelahnya aku tidak sekuat itu.
Tapi aku tidak ingin berhenti sama sekali.
Satu halaman per hari mungkin terlihat kecil.
Tapi satu halaman yang dibaca sepanjang tahun akan mengalahkan satu juz yang hanya hadir di bulan tertentu.
Yang penting bukan banyaknya,
tapi keberlanjutan.
Karena perubahan sejati tidak lahir dari lonjakan sesaat, melainkan dari kebiasaan kecil yang dijaga.
Aku belajar bahwa spiritualitas bukan tentang momen tinggi yang spektakuler,
tapi tentang kesetiaan pada hal-hal sederhana.
Datang tepat waktu untuk shalat, meski tidak selalu sempurna.
Menyisihkan sedikit sedekah, meski nominalnya kecil.
Menjaga lisan, meski kadang masih tergelincir.
Istiqamah itu tidak glamor.
Ia sunyi.
Ia pelan.
Ia kadang membosankan.
Tapi justru di sanalah kekuatannya.
Ramadan seharusnya menjadi sekolah untukku.Dan setelah 30 hari, kita lulus bukan untuk berhenti belajar, tetapi untuk mempraktikkan pelajarannya.
Aku ingin setelah Ramadan, ada yang tetap tinggal.
Mungkin bukan semuanya.
Mungkin bukan dalam kadar yang sama.
Tapi ada jejak.
Jejak kebiasaan baik.
Jejak kesadaran.
Jejak rasa bersalah ketika lalai yang membuatku kembali lagi.
Aku tidak ingin menjadi pribadi yang hanya rajin karena suasana.
Aku ingin menjadi pribadi yang tetap berusaha meski suasana sudah biasa.
Karena iman bukan tentang intensitas yang meledak-ledak.
Ia tentang stabilitas yang dijaga.
Dan mungkin, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil maksimal selama Ramadan.
Tapi ketika kita berhasil membawa satu atau dua kebiasaan baik itu ke bulan-bulan berikutnya.
Sedikit, tapi setia.
Pelan, tapi terus.
Karena yang membuat pohon tumbuh tinggi bukan hujan deras sesaat,
melainkan air yang datang terus-menerus.
Ramadan ini aku tidak mengejar puncak.
Aku sedang membangun dasar.
Dan dasar yang kuat, akan menopang perjalanan yang panjang.
Ramadan Bukan Tentang Menjadi Orang Lain
Ramadan bukan tentang menjadi versi paling religius untuk dilihat orang.
Ramadan adalah tentang menjadi lebih jujur pada diri sendiri.
Tentang mengakui: Aku masih belajar.
Aku masih jatuh.
Aku masih sering lupa.
Tapi aku ingin kembali.
Dan mungkin, itu sudah cukup sebagai awal.
So,
Target Ramadan tahun ini bukan tentang angka.
Bukan tentang berapa kali khatam.
Bukan tentang seberapa sering update status religius.
Bukan tentang terlihat lebih saleh.
Target Ramadan tahun ini adalah:
Lebih sadar.
Lebih tenang.
Lebih tumbuh.
Karena hidup bukan tentang menjadi sempurna.
Tapi tentang terus memperbaiki arah.
Semoga Ramadan tahun ini tidak hanya mengubah jadwal kita, tapi juga mengubah hati kita.
Aamiin 🤍
-jendelawarnadunia.com-
Challenge Blog IIDN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar