Di Antara Kantuk dan Doa: Makna Sahur yang Sering Terlupa

Sahur selalu datang dalam suasana yang sama: mata masih berat, tubuh masih ingin kembali ke selimut dan dapur terasa lebih sunyi dari biasanya. 

Di antara bunyi alarm dan suara sendok yang pelan menyentuh piring, ada satu pertanyaan sederhana yang sering muncul: 

"Makan apa, ya?"

Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun sebenarnya, memilih menu sahur bukan sekadar soal isi perut. Ia adalah tentang bagaimana kita mempersiapkan diri, secara fisik dan batin, untuk menjalani hari yang panjang.




Sahur Bukan Tentang Menu Mewah

Dalam realitas sehari-hari, sahur tidak selalu indah seperti foto-foto di media sosial. Tidak selalu ada meja penuh lauk lengkap. Kadang hanya nasi hangat dan telur dadar. Kadang hanya roti dan segelas susu. Bahkan ada hari-hari ketika kita hanya mampu meneguk air dan beberapa butir kurma.

Namun sahur bukan tentang kemewahan. Ia tentang kesadaran.

Kesadaran bahwa tubuh ini akan diajak menahan lapar dan haus selama berjam-jam. Kesadaran bahwa energi hari ini ditentukan oleh apa yang kita pilih sebelum fajar. Maka ide menu sahur yang baik bukan yang paling rumit, melainkan yang paling bijak.


Menyusun Menu dengan Kesadaran

Sahur yang ideal tidak harus mahal, tetapi seimbang. Tubuh membutuhkan energi yang tahan lama, bukan sekadar rasa kenyang sesaat.

Beberapa ide menu sahur yang realistis dan mudah diterapkan antara lain:
Nasi, telur dadar sayur, dan tumis sederhana.

Kombinasi ini sudah cukup: karbohidrat untuk tenaga, protein untuk rasa kenyang lebih lama, dan sayur untuk menjaga pencernaan.

- Sup ayam dengan kentang dan wortel.
Hangat, ringan, dan membantu hidrasi. Cocok untuk yang sulit makan berat saat sahur.
- Ikan panggang atau goreng sederhana dengan lalapan.
- Protein dari ikan membantu menjaga stamina tanpa membuat tubuh terasa terlalu berat.
- Oatmeal dengan pisang atau telur rebus.
Alternatif praktis bagi yang ingin lebih ringan namun tetap mengenyangkan.

Sederhana. Terjangkau. Realistis.

Karena sejatinya, sahur bukan tentang kesempurnaan menu, tetapi tentang niat merawat diri.


Di Antara Kantuk dan Pilihan

Ada hari ketika kita terlalu lelah untuk memasak. Ada hari ketika waktu terasa sempit. Di situlah keputusan kecil menjadi penting: tetap sahur, meski sederhana, atau melewatkannya.

Bangun sahur adalah bentuk disiplin. Memilih menu yang lebih sehat adalah bentuk tanggung jawab. Mengurangi makanan terlalu asin agar tidak cepat haus adalah bentuk perhatian pada diri sendiri.

Sahur melatih kita untuk tidak asal-asalan dalam memulai hari.


Lebih dari Sekadar Energi

Sahur juga mengajarkan keseimbangan. Tidak berlebihan, tidak pula mengabaikan kebutuhan. Makan secukupnya. Minum dengan cukup. Tidak menuruti keinginan, tetapi mempertimbangkan kebutuhan.

Di sela-sela makan, sering kali ada doa yang terucap pelan. Harapan agar puasa hari ini lancar. Permohonan agar diberi kesabaran. Di situlah sahur menjadi lebih dari sekadar aktivitas biologis, ia menjadi persiapan spiritual.

Menu sahur yang baik bukan hanya yang membuat tubuh kuat, tetapi juga yang membantu hati tenang.


Makna yang Sering Terlupa

Kita sering terlalu fokus pada berbuka, menu apa yang lezat, minuman apa yang manis. Padahal sahur adalah fondasi. Ia adalah awal, bukan akhir.

Di antara kantuk dan doa, ada momen kecil untuk bertanya:

Sudahkah aku menyiapkan hari ini dengan sungguh-sungguh?
Sudahkah aku memperlakukan tubuhku dengan baik?

Sahur mengajarkan bahwa kesiapan adalah bentuk kesungguhan.

Pada akhirnya, ide menu sahur bukan hanya tentang daftar makanan. Ia adalah tentang kesadaran memilih yang cukup, yang seimbang, dan yang bijak. Dalam kesederhanaan meja sahur, kita belajar merawat diri, menata niat, dan memulai hari dengan lebih siap.

Karena mungkin, di waktu yang paling sunyi itulah, kita sedang membangun kekuatan... pelan-pelan, namun penuh makna.


-jendelawarnadunia.com-

Challenge Blog IIDN 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar