Ramadan selalu identik dengan kebersamaan. Sahur yang setengah mengantuk tapi penuh tawa. Meja berbuka yang ramai oleh cerita kecil tentang sekolah, teman, dan hal-hal sepele yang justru terasa berharga.
Namun tidak semua orang tua memiliki kemewahan itu.
Ada yang harus menjalani puasa di kota lain.
Ada yang sahur sendiri di kamar kos.
Ada yang berbuka hanya ditemani layar ponsel dan foto anak di galeri.
Bekerja jauh dari anak saat Ramadan adalah ujian yang tak terlihat, tapi terasa dalam.
Ketika Sahur Tak Lagi Ramai
Sahur bukan lagi tentang menyiapkan menu favorit si kecil.
Bukan lagi tentang membangunkan dengan suara lembut.
Bukan lagi tentang drama kecil: “Lima menit lagi ya, Bu…”
Sahur berubah menjadi rutinitas sunyi.
Alarm berbunyi, bangun sendiri, makan secukupnya, lalu kembali ke pekerjaan.
Di momen itulah rindu sering datang tanpa permisi.
Karena ternyata yang paling dirindukan bukan makanannya, melainkan suasananya.
Berbuka yang Tak Sama
Waktu berbuka biasanya adalah puncak kebahagiaan kecil dalam sehari. Anak-anak berebut kurma, menunggu azan, lalu bersorak saat waktu magrib tiba.
Ketika harus berbuka sendiri, azan terdengar lebih pelan. Meja makan terasa terlalu luas. Dan ada jeda hening yang sulit dijelaskan.
Kadang video call jadi pengganti.
Melihat anak tertawa di layar.
Mendengar mereka berkata, “Ibu kapan pulang?”
Pertanyaan sederhana, tapi bisa membuat hati sesak.
Antara Tanggung Jawab dan Perasaan
Bekerja jauh bukan karena tak sayang.
Justru seringkali karena terlalu sayang.
Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada masa depan yang sedang diperjuangkan.
Ada biaya sekolah, ada cicilan, ada mimpi yang ingin diwujudkan.
Namun tetap saja, hati orang tua bukan mesin logika.
Ada rasa bersalah yang kadang muncul:
“Apakah aku melewatkan masa tumbuh mereka?”
“Apakah mereka merasa ditinggalkan?”
Padahal cinta tidak diukur dari jarak fisik semata, bukan jadi penghilang kasih sayang.
Puasa Mengajarkan Makna Kehadiran
Menariknya, justru ketika jauh, kita makin paham arti dekat.
Kita baru menyadari:
- Betapa berharganya suara anak yang ribut.
- Betapa indahnya meja makan yang berantakan.
- Betapa rumah tanpa mereka hanyalah tempat singgah.
Puasa saat kerja jauh dari anak mengajarkan kesabaran tingkat tinggi.
Bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi menahan rindu.
Dan rindu itu, jika diniatkan karena Allah dan demi kebaikan keluarga, berubah menjadi ibadah.
Cara Menjaga Ikatan Meski Terpisah
Meski jarak memisahkan, ada cara untuk tetap hadir:
- Jadwalkan video call rutin saat sahur atau berbuka.
- Kirim pesan suara sebelum mereka tidur.
- Bacakan doa untuk mereka setiap selesai salat.
- Libatkan diri dalam cerita kecil mereka, meski lewat layar
Anak mungkin belum sepenuhnya mengerti alasan kita pergi. Tetapi mereka akan selalu mengingat rasa dicintai.
Rindu yang Menguatkan
Kerja jauh saat Ramadan bukan tanda kegagalan sebagai orang tua.
Itu adalah bentuk perjuangan.
Ada orang tua yang berjuang dengan waktu.
Ada yang berjuang dengan tenaga.
Ada yang berjuang dengan jarak.
Dan semuanya sama-sama mulia.
Suatu hari nanti, ketika anak-anak sudah dewasa, mereka mungkin tidak mengingat detail pengorbanan itu. Tapi mereka akan merasakan hasilnya. Mereka akan tumbuh dalam keamanan, pendidikan, dan nilai yang ditanamkan.
Dan mungkin, di suatu Ramadan kelak, kalian akan duduk bersama lagi di satu meja.
Sahur tak lagi sunyi.
Berbuka tak lagi sendiri.
Karena setiap rindu yang ditahan hari ini adalah bagian dari cerita keluarga yang sedang ditulis dengan sabar.
-jendelawarnadunia.com-
Challenge Menulis IIDN
-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar