Ramadan zaman dulu di Bandung itu rasanya beda. Udara masih agak dingin, sore-sore wangi gorengan mulai keluar dari dapur tetangga, dan suara anak-anak main petak umpet sebelum tarawih terdengar sampai ujung gang.
.
Dan di masa itu, Bandung masih punya satu tempat legendaris buat anak-anak: "Romano".
Tempat yang kalau orang tua bilang,
“Kalau puasa kamu kuat sampai Maghrib, nanti kita ke Romano.”
Itu sudah seperti janji surga versi anak kecil.
Hari itu, entah karena kasihan lihat anak-anak mulai lemas atau memang ingin membahagiakan, orang tua mengajak aku dan dua saudara ke sana. Perjalanan ke sana saja sudah seperti wisata religi. Kami di mobil dengan kondisi puasa, energi tinggal 30%, tapi semangat 200%.
Begitu sampai… wah!!! Lampu warna-warni, suara mesin permainan, aroma karpet karet, dan tawa anak-anak. Rasanya dunia sangat besar dan sangat menyenangkan.
Tapi yang paling bikin jatuh cinta adalah satu arena: balon raksasa berbentuk gajah.
Gajahnya bukan sekadar balon. Bagiku kala itu adalah portal kebahagiaan. Kita masuk lewat celah kecil, lalu di dalamnya bisa lari-larian, loncat-loncat, bahkan mental-mental kayak popcorn. Setiap kali melompat, badan terpental dan ketawa meledak tanpa alasan jelas.
Aku ingat sekali sensasinya:
Berkeringat tapi bahagia.
Puasa tapi lupa kalau lagi puasa.
Dunia cuma seluas perut gajah itu.
Aku, kakak, dan adik saling kejar. Kadang jatuh, kadang terguling, kadang tertimpa badan sendiri. Dan setiap lima menit, keluar sebentar cuma buat teriak ke orang tua:
“Lihat aku!”
Padahal mereka cuma senyum sambil duduk, mungkin sambil menahan haus, mungkin sambil mikir, “Ini anak-anak kok energinya nggak habis-habis ya?”
Masalahnya muncul ketika waktu pulang tiba.
Orang tua bilang kalimat yang paling menyakitkan bagi anak kecil:
“Sudah ya, sekarang pulang. Sebentar lagi Maghrib.”
Pulang?
Dari gajah?
Dari kerajaan kebahagiaan?
Tentu tidak bisa!
Awalnya cuma merengek. Lalu level naik jadi protes. Lalu berubah jadi tangisan full stereo Dolby Surround. Aku memeluk badan gajahnya. Seakan-akan itu teman seperjuangan.
“Aku mau gajahnya dibawa pulang!”
Ya. Bukan cuma mau main lagi. Mau dibawa pulang. Mungkin di kepala kecilku waktu itu logikanya sederhana:
Kalau aku suka, berarti bisa dibawa.
Orang tua mulai tarik napas panjang. Satu… dua… tiga… mungkin sampai dzikir dalam hati. Puasa tinggal hitungan jam. Energi kesabaran tinggal tipis.
Akhirnya, dengan kombinasi bujuk rayu dan sedikit digendong paksa, aku dimasukkan ke mobil.
Dan di dalam mobil… tangisan berlanjut.
Tangisannya bukan lagi sedih. Tapi dramatis. Lengkap dengan suara tersengal dan kalimat-kalimat puitis ala anak kecil:
“Aku mau gajahnyaaaaa…!”
Sepanjang jalan pulang, suara tangisku menggema di dalam mobil yang panas menjelang Maghrib. Kakak mungkin mulai kesal. Adik mungkin ikut-ikutan rewel. Dan orang tua? Mereka sedang berjuang antara:
1. Menjadi orang tua sabar.
2. Atau ingin turun dan minum es teler wangi dan segar, pelepas dahaga biar waras lagi.
Puasa hari itu mungkin hampir batal… bukan karena haus, tapi karena ujian emosi.
Dan sekarang, ketika mengingatnya, aku nggak cuma ingat balon gajahnya. Aku ingat wajah orang tua yang tetap bertahan. Tidak membentak. Tidak marah besar. Cuma menahan. Menahan lapar. Menahan haus. Menahan ingin ngomel.
Ramadan mengajarkan sabar lewat anak kecil yang tidak mau pulang dari arena bermain.
Lucunya, sekarang kalau melihat anak yang tantrum karena tidak mau pulang dari playground, rasanya seperti melihat potongan masa lalu sendiri. Dulu kita merasa dunia hancur karena tidak bisa membawa pulang balon gajah.
Sekarang kita tahu… yang benar-benar kita bawa pulang hari itu bukan gajahnya.
Tapi kenangan.
Kenangan Ramadan yang sederhana.
Kenangan tentang sabar yang diuji.
Kenangan tentang orang tua yang tetap memilih lembut meski hampir goyah.
Dan entah kenapa… setiap kali Ramadan datang, memori itu muncul lagi. Bukan lagi dengan tangis, tapi dengan senyum kecil.
Karena ternyata, gajah itu memang tidak pernah pulang bersama kita.
Tapi kenangan dan rasa bahagia… masih tinggal sampai sekarang🐘💛
---
Base on True Story
Ku sampaikan rasa terima kasihku untuk Amah dan Apap. Tanpa kesabaran dan ketulusan cinta beliau- beliau, kenangan ini belum tentu indah dan menjadi kocak.
-jendelawarnadunia.com-
Challenge Menulis IIDN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar