![]() |
| Sumber: Buku 100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung |
Sabtu, 08 September 2018
Selamatkan! Cagar Budaya di kota Bandung yang Mulai Tergerus Modernisasi
Cagar budaya di kota Bandung, khususnya bangunan bersejarah, mulai tergerus modernisasi. Hal ini menjadi fokus perhatian, sekaligus menjadi 'PR' bagi para pelaku dan pemerhati pelestarian Cagar Budaya. Kepentingan bisnis dan tekanan pembangunan yang dirasakan kurang mengindahkan ketentuan estetika pada bangunan sejarah, berpotensi menghancurkan kawasan dan bangunan cagar budaya di kota Bandung. Dan jika tidak dijadikan perhatian khusus, lambat laun sejarah akan hilang ditelan zaman.
Nah, dengan adanya pemikiran mengenai hal tersebut, saya mulai tertarik untuk mengetahui terlebih dahulu kriteria penentu yang termasuk sebagai kategori bangunan cagar budaya. Yaitu bangunan yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, ilmu pengetahuan, sosial budaya dan usia bangunan minimal 50 tahun. Yang terbagi dalam beberapa tipe, yaitu: Tipe A (terdapat 4 kriteria yang terpenuhi), Tipe B, (terdapat 3 kriteria yang terpenuhi), dan Tipe C (terdapat 2 kriteria yang terpenuhi). Wah, ternyata ada kriteria khusus ya.
Di kota Bandung sendiri, dalam Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010, diantaranya kurang lebih 1500 cagar budaya yang tersebar di setiap kawasan. Tidak hanya bangunan, tetapi juga terdiri dari benda bersejarah seperti piring, sendok, lukisan, keris, dan sebagainya. Ada pula cagar budaya berupa struktur, seperti menara, reservoir air dan jembatan. Cagar budaya dapat pula berupa kawasan yang terdiri dari beberapa zona maupun daerah.
Dalam buku "100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung", karya Harastoeti DH., Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung, yang diterbitkan oleh CSS Publishing, tercatat ada 100 bangunan yang menjadi aset berharga untuk dapat dimanfaatkan di berbagai kebutuhan kehidupan masa kini, tanpa merusak kelestarian dan konteks sosial budaya. Sedangkan pada 2016, melalui Peraturan Wali Kota, Pemerintah Kota Bandung menambah jumlah bangunan yang diproteksi sebanyak 271 unit.
Seperti yang pernah dituturkan Wali Kota Bandung, bahwa "Bandung adalah merupakan melting pot." Pertemuan dari berbagai budaya sehingga menjadi kota yang multi-kultural. Sejarah dan budaya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Di dalam sebuah kota, sejarah dan budaya akan menjadi satu kesatuan, melebur membentuk identitas dan wajah sebuah kota.
Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa kompleksitas kebutuhan bisnis, selera di masyarakat dan perubahan zaman mengakibatkan dinamika pembangunan ke arah gaya modern, semakin berkembang pesat di kota Bandung. Struktur bangunan sejarah yang dipergunakan untuk kepentingan bisnis dan pribadi pemiliknya, semakin lama semakin rapuh termakan usia. Sehingga timbul keinginan dan kebutuhan untuk merenovasi bangunan tersebut untuk disesuai dengan fungsi, karakteristik dan budaya 'kekinian'. Namun ternyata banyak masyarakat yang belum paham tentang bangunan cagar budaya di kota Bandung.
Seperti halnya bangunan di jalan Gatot Subroto Bandung, yang akhir-akhir ini menjadi salah satu perhatian khusus bagi para pelaku dan pemerhati pelestarian cagar budaya. Bangunan eks Asrama Sekolah Guru Olahraga ini merupakan rancangan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Namun pemilik saat ini membongkarnya tanpa izin, dan membangun kembali bangunan tersebut tanpa mengikuti ketentuan bangunan yang menjadi salah satu cagar budaya. Untuk itu, pemerintah menindak tegas untuk menyegel bangunan bersejarah yang masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya tipe B ini, disaksikan langsung oleh Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil. Dan pemilik bangunan berjanji akan mengembalikan struktur bentuk bangunan tersebut sehingga tidak berubah estetika dari keaslian bangunan tersebut.
Tingkat kompleksitas yang tinggi dalam upaya pelestarian bangunan cagar budaya, menjadi 'PR' bagi para pelaku dan pemerhati pelestarian cagar budaya. Untuk itu, saya yang tergabung pada Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Emak Pintar Bandung (EPB), binaan dari Indari Mastuti, tergerak untuk berperan serta dalam mensosialisasikan perlindungan bangunan cagar budaya di kota Bandung. Harapan saya sebagai warga kota Bandung, Pemerintah kota Bandung bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dibantu oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung, dan komunitas-komunitas di kota Bandung terus berupaya mensinergikan kebijakan tata ruang kota dengan perlindungan cagar budaya dan juga terus berupaya mensosialisasikan hal ini, umumnya kepada masyarakat luas.
Mari kita meningkatkan kepedulian terhadap bangunan cagar budaya, sebagai kekayaan sejarah yang patut dibanggakan. Karena ini merupakan tugas kita bersama. Dan jika tidak dijadikan perhatian khusus, lambat laun sejarah akan hilang ditelan zaman.
With ❤
Novi Herdiani
Minggu, 02 September 2018
STT Telkom: mempersiapkan Sumber Daya Manusia untuk menghadapi Resolusi Industri 4.0
Globalisasi di dunia, semakin menuju ke arah percepatan revolusi industri. Teknologi yang semakin canggih, membuat semua sektor pembangunan melakukan transformasi ke arah teknologi digitalisasi. Dan tidak mau ketinggalan, sejak tahun 2011, Indonesia pun terus berupaya untuk menuju revolusi ke era Industri 4.0. Untuk itu, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan, terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era Industri 4.0, dengan fokus utama pada peningkatan Sumber Daya Manusia.
![]() |
| Sumber: Pasukan Blogger JA |
Seiring dengan perkembangan tersebut, Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Bandung yang beralamatkan di Jalan Soekarno Hatta No.378 Bandung, memiliki perhatian dan andil yang cukup besar dalam menjembatani para akademisi dan mahasiswa di Indonesia dengan menyelenggarakan Seminar Nasional Telekomunikasi dan Informatika (SELISIK 2018), mengenai "Bagaimana Mempersiapkan SDM dalam menghadapi Industri 4.0.", yang bekerja sama dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer (APTIKOM) Jawa Barat, Indonesian Computer Elektronics and Instrumentation Support Society (IndoCEISS), NERIS, dan didukung oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia seperti STMIK AMIKOM Purwokerto, AMIKOM Cipta Darma Surakarta, STMIK Atma Luhur Pangkal Pinang, STIKOM BALI, STIKOM Banyuwangi, STMIK Bumigora Mataram-NTB, STMIK PalComTech, Politeknik PalComTech, dan MIKROSKIL.
![]() |
| Sumber: Pasukan Blogger JA |
Acara nasional yang diadakan di Convention Hall, Hotel Harris Festival Citylink Bandung ini, dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Tari Rampak Kendang dan Angklung STT Bandung. Kemudian Ibu Harya Gusdevi S.Kom., M.Kom. selaku Ketua Panitia SELISIK 2018 memberikan laporan acara SELISIK 2018. Disusul dengan sambutan dari Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom., MT.
Pada sambutannya, Bapak M. Naseer, Ketua STT Bandung, mengatakan bahwa Perguruan Tinggi saat ini ditantang untuk bisa menerjemahkan roadmap Making Indonesia 4.0 yang telah dibuat pemerintah. Akan tetapi, kunci keberhasilannya tetap pada hubungan yang harmonis dalam siklus yang berkesinambungan antara pemerintah, pelaku industri, para akademisi dan mahasiswa, serta masyarakat luas. Sehingga Making Indonesia 4.0 tidak berhenti hanya pada konsep saja. Melainkan perlu adanya perubahan mindset dan action dari semua lapisan masyarakat.
Berlanjut pada sambutan Ketua APTIKOM Jabar yang saat itu diwakili oleh Wakil Ketua APTIKOM, yang dilanjutkan dengan penandatanganan MoU IndoCEISS dan NERIS dengan Perguruan Tinggi yang tergabung di IndoCEISS dan NERIS sebagai wujud kerja sama. Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman pemenang Kompetisi SELISIK 2018, siraman rohani oleh Prof. Dr. Ing. Iping Supriana Suwardi dan doa bersama.
![]() |
| Sumber: Pasukan Blogger JA |
Pada sesi pembahasan materi dari pembicara pertama, yaitu Bapak Ir. Priyantono Rudito, M.Bus., Ph.D., yang menjabat sebagai Tenaga Ahli Kementrian Pariwisata Bidang Manajemen Strategis. Dengan tema "Menyiapkan Sumber Daya Manusia Untuk Menghadapi Industri 4.0 dengan Mengembangkan Digital Mastery". Beliau menyampaikan bahwa ada 3 hal yang perlu dipersiapkan, yaitu 3C: Context yang meliputi: 1. Acelerated Digitalisation, dimana era digital yang kita hadapi, terjadi jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Ada 6 hal yang menyebabkan hal itu, Hal ini ditandai dengan munculnya internet, broadband access, open source, social media, smart gadget, dan applications. Contoh nyata: hadirnya Google, Facebook, titipan kilat, platform GoJek, data Medical Check-up (diagnosa) online, Drone-brella (payung tanpa dipegang), petani di luar negeri sudah tidak memakai cangkul tetapi memakai smartphone, dll. 2. Disruption, dimana era digital akan merubah cara hidup dan menjadi pembiasaan baru di masyarakat. Dengan 3 cara berpikir secara linier, eksponensial dan progresif. Sehingga dengan demikian dalam menawarkan produk, yang ditawarkan adalah value atau nilai yang tak dapat ditolak oleh customer. Contoh nyata: taksi dan penumpang pada platform GoJek dimudahkan dengan adanya aplikasi online yang mempertemukan mereka. 3. Transformation, dimana transformasi digital itu multi dimensi, tetapi dimensi intinya adalah Sumber Daya Manusia. Concept yang meliputi: 1. Mengelola SDM dengan paradigma baru, yaitu teknologi digital dalam era revolusi industri. 2. Terus mengembangkan kemampuan SDM. 3. Kuadran 9 spirit dan kolaborasi kepemimpinan dari beberapa generasi di era digital. Content, yang meliputi: Kompetensi yang diperlukan adalah kemampuan untuk memahami Context bisnis yang terjadi di ekosistem Industrinya dimana saat ini tengah terjadi ”pertempuran” model bisnis dengan menggunakan cara berpikir (way of thinking) Linear / Incremental vs Eksponensial.
![]() |
| Sumber: Pasukan Blogger JA |
Pembicara sesi kedua adalah Prof. Dr. Suyanto, MM, Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta. Beliau membawakan materi mengenai "Human Capital Development in Industrial 4.0: AMIKOM University Experience". Bapak Profesor mengemukakan bahwa, yang disebut dengan Sumber Daya Manusia, adalah profesional, pengusaha, ilmuwan dan seniman. Dan di era digital ini, kita dituntut untuk serba bisa atau multi-tasking, berpikir panjang atau paralel-thinking, mengaplikasikan ke berbagai media atau multi media, dan banyak memiliki keahlian atau multi resources. Menjadi manusia pembelajar dan terus menciptakan inovasi-inovasi baru. Karena hal ini harus dapat dimanfaatkan dengan baik dan optimal, agar tidak ketinggalan zaman. Beliau membagikan kisah dan pengalamannya from-zero-to-hero, dimana sekarang karyanya bisa dinikmati tidak hanya di Indonesia, tetapi sudah merambah ke luar negeri, bahkan hingga ke Jepang dan Amerika. Pemutaran film animasi Ajisaka, menjadi penutup yang fantastis dan cukup memukau seluruh peserta seminar hari ini. Karya anak bangsa yang menjadi proyek besar hasil kerja sama dengan Jepang, menjadi satu kebanggaan bagi kita semua. (NH).
#MakingIndonesia4.0
#Selisik2018
#STTBandung
#MakingIndonesia4.0
#Selisik2018
#STTBandung
With ❤
Novi Herdiani





